Setiap orang pernah mengalami jatuh cinta. Tapi lebih dari 90 % dari orang yang jatuh cinta pasti pernah mengalami patah hati. Meskipun data ini sama sekali tidak bisa dibuktikan secara akurat oleh badan statistik (karena nggak mungkin Badan Statistik kurang kerjaan ngumpulin data orang yang jatuh cinta dan patah hati kan?) Tapi saya yakin data dihatimu pasti mengatakan itu. Begh…
Orang-orang besar pasti pernah patah hati, Bill Clinton pernah patah hati, Rhoma Irama pernah patah hati, Obama mungkin juga pernah patah hati.
Saya?
Jangan tanya lagi. Saya terlalu sering patah hati.
Dulu waktu jamannya Richie Five Minutes saya patah hati ditolak mlulu cintanya.
Sama Ajun Perwira ditolak juga
Sama Adipati Dolken apalagi. Sebelum naksir udah ditolak duluan.
Bahkan sama dagang nasi goreng saya juga ditolak.
“Saya tahu, mbak Ayu ngejar-ngejar saya bukan karena cinta kan? Tapi karena pengin dapet diskon dan gratisan nasi goreng! Saya nggak mau mbak.. pergiiii pergiiii..” Katanya begitu.
Hancur hati saya.
Btw, dari pengalaman saya berkali – kali dan berulang-ulang patah hati kayak gitu maka saya bisa mengambil kesimpulan, seperti seorang pakar yang menciptakan teori atau mirip seorang professor yang sedang mengadakan penelitian. Maka ada rumus-rumus tertentu untuk mengatasi patah hati, atau yang sekarang dalam bahasa trendnya
MOVE ON.
Setiap orang punya cara tersendiri untuk move on. Mungkin ada yang minum racun serangga, ke dukun santet atau ke dukun pelet. Tapi pada intinya MOVE ON yang sehat dapat dirumuskan ke dalam 4 M. Chek it Out.
1. M ke 1 = Memaafkan
Setiap keputusan pasti membuahkan luka. Sebaik apapun cara putusnya. Mungkin sebelum putus kita pernah dikhianati, dicemburui, dikata-katai yang menyakitkan, dimarahi, bahkan mungkin pernah dianiaya. Kejadian yang menyakitkan kayak gitu setiap kali diingat hanya bikin sakit terus. Jadi gimana menghilangkannya?
Ya dengan memaafkan. Dia mungkin salah di mata kita, tapi kita juga musti sadar bahwa kita juga pasti juga ada kesalahan dengan andilnya sebuah keputusan. Dengan memaafkan kita belajar mengikhlaskan. Entah dia memaafkan atau enggak, tak usah terlalu dipikirkan. Memaafkan penting untuk diri kita sendiri.
2. M ke 2 = Melupakan
Memaafkan dan melupakan erat sekali hubungannya. Bagai simbiosis mutualisme yang saling melengkapi dan menguntungkan. Jika udah memaafkan yang wajib dilakukan adalah melupakan apa yang udah kita maafkan tadi. Melupakan gak gampang sih, tapi cara yang paling mudah adalah menghapus semua kenangan visual yang ada dengan cara :
- Nggak mengunjungi tempat yang unyu-unyu saat bersamanya
- Nggak mengenang apa yang udah diberikannya
- Nggak melihat foto-foto masalalu
- Meminimalis untuk nggak sms atau telpon dia
Mengunfriend atau memblokir FBnya itu gak masalah sebagai usaha kita untuk melupakan. Bukan berarti benci, tapi untuk sementara waktu agar nggak melihat apa statusnya, siapa pacarnya, lagi ngapain sama pacarnya dan semua-muanya yang malah bisa membangkitkan emosi dan membuat kita justru terus menerus mikirin dia.