SRIKANDI

Srikandi
Srikandi Cakep


Seharusnya entry post ini pantesnya di unggah pas tanggal 21 April pas hari Kartini kemaren, tapi biasalah, lagu lama karena penyakit malas menahun saya lagi kumat, maka baru terpikir posting hari ini.

Ide ini muncul begitu saja ketika saya ngobrol “tengah malam” dengan salah satu finalis Emak-emak Blogger. Kesannya pembicaraan ini seperti 2 kunti yang sedang curhat di tengah malem ya?

Di Hari Kartini kemarin, banyak perempuan (dan juga lelaki) membuat entry post tentang perjuangan hak-hak kaum perempuan, bagaimana menjadi perempuan hebat dan berbagai lomba memperebutkan gelar sebagai perempuan terhebat serta bagaimana memerdekakan perempuan dari segala macam keterkungkungan.

Hari Kartini selalu mengingatkan kita untuk menghormati hak-hak kaum perempuan, kesetaraan hak kaum perempuan di dunia pekerjaan dan pendidikan dan mengakui eksistensi mereka dalam segala bidang.

Ada hal-hal tertentu yang membuat perempuan itu belum merdeka dalam arti sesungguhnya. Parahnya pengekangan kemerdekaan itu dilakukan justru oleh kaum perempuan sendiri. Ada banyak perempuan yang mencela perempuan lain karena dianggapnya lemah, manja, suka dandan, bergaya Barbie dan sebagainya.

Suka-suka gue dong!

Cerpen : Damn, I Still Love Him

Love Rain



“Kita putus saja” Kataku sambil membalikkan badan berjalan menjauh dari Andre.

Seperti biasanya, aku yakin pada saat aku marah kayak gini Andre bakalan mengejarku lalu memohon-mohon padaku agar aku nggak marah-marah lagi. Lalu minta baikan dan menuruti semua keinginan serta syarat-syarat yang kuajukan.

Tap..tap..tap…Terdengar langkah kaki berat mendekatiku.

Tuh kan bener, Andre pasti akan mengalah dan minta maaf padaku. Lalu mohon agar aku nggak ngambek lagi. Hmmm.. kira-kira syarat apalagi ya yang harus aku ajukan kepadanya? Mungkin traktir es krim aja ya? Ah jangan..jangan terlalu ringan syaratnya, lebih baik sepatu baru yang merk Lorenz yang selama ini aku impikan. ha..ha..ha.

“Din…jangan ngambek gitu dong. Ayolah!” Suara Andre berusaha membujukku. “Ada yang mau aku omongin sama kamu”

Mau ngomong apa sih Ndre? Pasti mau minta maaf lalu bilang, “ Dinda sayang, oke aku minta maaf. Sekarang mau jalan kemana? Aku yang traktir deh. ya kan? ya kan?” Kataku dalam hati.

Aku membalikkan badan, memandang wajahnya yang putih bersih. Ah, gantengnya pacarku ini. Bagaimanapun juga aku sangat mencintainya.

“ Aku gak tahan lagi, aku rasa sebaiknya kita udahan aja!”

“ Putus maksudnya? “ Aku mencoba menterjemahkan kata-kata Andre barusan dengan seksama.

Putus? Nggak bisa..nggak bisa. Aku kan nggak serius pengin putus sama kamu? Aku kan sayang banget sama dia? Gila apa kalo aku sampai mutusin dia. Aku berharap ini hanya mimpi. Aku berharap ini hanya becanda aja. Meski becanda yang sangat tidak lucu.

Sejenak aku menatap wajah Andre.namun aku tak menemui raut muka becanda atau senyum sedikitpun di wajahnya. Itu pertanda Andre kali ini benar-benar serius. Ironisnya serius kali ini justru karena pengin putus dariku!

“Secara tekhnis kita udah nggak pacaran lagi ya Din!” Ujar Andre menatapku dalam-dalam.” Aku udah gak tahan lagi sama sikapmu yang childish, suka ngambek, mau menang sendiri!”

Do’a Yang Tidak Egois

Do'a

Di Bali sudah biasa dengan pemandangan anak-anak kecil berjualan keliling menjajakan jagung, semangka, dan buah-buahan kupas lainnya, seperti yang saya lihat pagi ini di sekitar kampus. Selama ini saya nggak terlalu memperhatikan mereka.

Tapi ketika tadi pagi tiba-tiba saya tergerak untuk bertanya, “ Masih sekolah dik?”

Ternyata ada beberapa dari mereka yang masih sekolah. Mereka mengisi liburan Galungan dan Kuningan dengan menjajakan dagangan untuk membantu biaya sekolah. Namun ada beberapa juga yang sudah nggak sekolah lagi.

Alasannya sama, “nggak ada biaya” padahal biaya SPP mereka hanya berkisar 25 ribu per bulan. Kalo saya 25 ribu berarti tidak atau bisanya beli majalah remaja Alay, ternyata buat mereka 25 ribu berarti tidak atau bisanya meneruskan sekolah.

Ketika kemudian ada sebuah sedan BMW melintas di depan saya, kemudian saya memanjatkan do’a :

“ Ya Tuhan, semoga aku menjadi orang yang kaya raya..Amin”

“ Do’a kamu duniawi banget sih!” Protes temen saya begitu denger apa yang saya ucapkan

“ Emang aku salah do’a?”

“ Yang penting itu bukan hartanya, tapi sedekahnya”

“ Emang bisa bersedekah tanpa duit?”

“ Bisa. Contohnya, kalo kamu pinter kamu bisa ngajar mereka. Kalo kamu punya makanan, kamu bisa bagiin ke mereka.”

#Jurnal Penelitian = 5 M untuk Move On


Setiap orang pernah mengalami jatuh cinta. Tapi lebih dari 90 % dari orang yang jatuh cinta pasti pernah mengalami patah hati. Meskipun data ini sama sekali tidak bisa dibuktikan secara akurat oleh badan statistik (karena nggak mungkin Badan Statistik kurang kerjaan ngumpulin data orang yang jatuh cinta dan patah hati kan?) Tapi saya yakin data dihatimu pasti mengatakan itu. Begh…

Orang-orang besar pasti pernah patah hati, Bill Clinton pernah patah hati, Rhoma Irama pernah patah hati, Obama mungkin juga pernah patah hati.

Saya?

Jangan tanya lagi. Saya terlalu sering patah hati.

Dulu waktu jamannya Richie Five Minutes saya patah hati ditolak mlulu cintanya.

Sama Ajun Perwira ditolak juga

Sama Adipati Dolken apalagi. Sebelum naksir udah ditolak duluan.

Bahkan sama dagang nasi goreng saya juga ditolak.

“Saya tahu, mbak Ayu ngejar-ngejar saya bukan karena cinta kan? Tapi karena pengin dapet diskon dan gratisan nasi goreng! Saya nggak mau mbak.. pergiiii pergiiii..” Katanya begitu.

Hancur hati saya.

Btw, dari pengalaman saya berkali – kali dan berulang-ulang patah hati kayak gitu maka saya bisa mengambil kesimpulan, seperti seorang pakar yang menciptakan teori atau mirip seorang professor yang sedang mengadakan penelitian. Maka ada rumus-rumus tertentu untuk mengatasi patah hati, atau yang sekarang dalam bahasa trendnya MOVE ON.

Setiap orang punya cara tersendiri untuk move on. Mungkin ada yang minum racun serangga, ke dukun santet atau ke dukun pelet. Tapi pada intinya MOVE ON yang sehat dapat dirumuskan ke dalam 4 M. Chek it Out.

1. M ke 1 = Memaafkan
Setiap keputusan pasti membuahkan luka. Sebaik apapun cara putusnya. Mungkin sebelum putus kita pernah dikhianati, dicemburui, dikata-katai yang menyakitkan, dimarahi, bahkan mungkin pernah dianiaya. Kejadian yang menyakitkan kayak gitu setiap kali diingat hanya bikin sakit terus. Jadi gimana menghilangkannya?

Ya dengan memaafkan. Dia mungkin salah di mata kita, tapi kita juga musti sadar bahwa kita juga pasti juga ada kesalahan dengan andilnya sebuah keputusan. Dengan memaafkan kita belajar mengikhlaskan. Entah dia memaafkan atau enggak, tak usah terlalu dipikirkan. Memaafkan penting untuk diri kita sendiri.

2. M ke 2 = Melupakan
Memaafkan dan melupakan erat sekali hubungannya. Bagai simbiosis mutualisme yang saling melengkapi dan menguntungkan. Jika udah memaafkan yang wajib dilakukan adalah melupakan apa yang udah kita maafkan tadi. Melupakan gak gampang sih, tapi cara yang paling mudah adalah menghapus semua kenangan visual yang ada dengan cara :
- Nggak mengunjungi tempat yang unyu-unyu saat bersamanya
- Nggak mengenang apa yang udah diberikannya
- Nggak melihat foto-foto masalalu
- Meminimalis untuk nggak sms atau telpon dia

Mengunfriend atau memblokir FBnya itu gak masalah sebagai usaha kita untuk melupakan. Bukan berarti benci, tapi untuk sementara waktu agar nggak melihat apa statusnya, siapa pacarnya, lagi ngapain sama pacarnya dan semua-muanya yang malah bisa membangkitkan emosi dan membuat kita justru terus menerus mikirin dia.