Minggu sore itu, ketika saya sedang duduk di teras rumah menikmati indahnya senja, datang seorang kurir memberikan sebuah amplop berwarna orange dari GagasMedia.
Amplop orange itu berisi bundelan hardcopy sebuah buku yang akan diterbitkan GagasMedia berjudul : I can
Jujur saja, ini pertama kalinya saya membaca buku setebal ini. Sebelumnya saya hanya membaca novel ringan yang tebalnya tidak lebih dari 250 halaman.
Namun, membaca buku ini selembar demi selembar membuat saya sedikit menahan nafas dan tenggelam dalam keharuan. Membawa saya dalam kesadaran bahwa setiap orang mempunyai kelemahan dan kekurangan, namun ada kalanya seseorang menjadi sangat kuat disaat dia membuang semua kelemahan yang melekat didalam dirinya
I can
Kisah ini dimulai ketika 10 tahun yang lalu pasangan keluarga John dikaruniai seorang putri cantik bernama Gwendolyne. Gwen terlahir dengan keadaan fisik luar yang normal seperti layaknya bayi umumnya namun sayangnya sejak lahir ia menderita tuna rungu. Gwen hidup dalam dunia yang sunyi senyap sementara di sekelilingnya dunia tampak warna-warni.
Seperti layaknya seseorang yang begitu terhempas, mendapati putrinya tak seperti yang lain, terutama San sebagai sang ibu, sangat kelihatan jelas bahwa awalnya ia sangat sibuk mencari pembenaran akan kesalahan diagnose fakta yang ia hadapi bahwa Gwen menderita tuna rungu.
San, sibuk ke sana kemari mencari apa penyebab kenapa sampai Gwen menderita ketulian. Setiap dokter yang dia tanya, selalu ia berharap dengan adanya kalimat “ Putri anda tidak apa-apa,dia akan segera sembuh dan normal”
Tapi sejauh apapun melangkah dan bertanya, San tak pernah menemukan jawaban yang lebih baik. Ia tak putus asa, walaupun awalnya ia hampir menyerah saat Dr. Kwong mengatakan dengan kasar kepadanya :
“ Lihat kan? Saya sudah bilang, tidak ada gunanya melakukan tes lain lagi. Hasilnya akan sama saja! Anakmu itu TULI. Paham? Dia TULI!!!
Yang harus anda pikirkan adalah apa yang harus anda lakukan selanjutnya. Kalo anda terus bertanya kenapa ini bisa terjadi, APA HASILNYA? Apakah itu bisa menolong anda? Apakah bisa menolong anak anda? Memikirkan masa lalu, bertanya-tanya’kenapa’ itu akan menyembuhkan ketulian bayi Anda?”
Walaupun kata-kata itu amat kasar dan menyakitkan, tak urung mampu membangkitkan kesadaran San untuk melakukan tindakan segera bangkit menghadapi kenyataan dan kemudian mengambil tindakan.
Saat berusia 1,5 tahun Gwen menjalani operasi cochlear implant, yaitu suatu operasi pemasangan chip atau elektroda di ruang siput telinga bagian dalam agar ia mampu menangkap sinyal suara dari luar yang di kirimkan oleh suatu alat.
Pemasangan Cochlear implant tak serta merta membuat Gwen bisa mendengar seperti anak yang lain. Perlu latihan yang terus menerus untuk membuatnya mengerti dan mengenali frekwensi suara yang dihasilkan oleh bunyi-bunyi dari luar.
John dan San juga tak serta merta memahami apa yang dikatakan Gwen dan juga tak serta merta memahami apa yang dimaksud Gwen. Kesal, marah dan kecewa namun orang tua Gwen tak pernah menyerah,tak pernah putus asa untuk mengajari Gwen menjadi seseorang yang mandiri. Apalagi ketika San sedang study di Sydney untuk S2 nya sedang John harus mengurusi bisnisnya di Jakarta.
Pernah suatu ketika, John memukul Gwen dengan keras karena Gwen tak mau mengenakan stockingnya saat akan diajak keluar jalan-jalan. Ia mengira Gwen sedang membandel dan mulai membangkang perintahnya, tanpa mencari penyebab yang jelas. Setelah dirunut dari awal, ternyata Gwen tak ingin menggunakan stocking karena ia ingin menunjukkan kuku cantiknya yang baru di cat.
Namun setelah tahun demi tahun dijalani keluarga Gwen, dengan masa adaptasi dan ketekunan untuk melatih kesempurnaan wicaranya, artikulasi Gwen bertambah bagus seiring dengan usianya.
Hingga akhirnya keluarganya pindah ke Jakarta dan kini usia Gwen 10 tahun, ia mempunyai kegemaran menggambar komik dimana saja, di sekolah, di dalam rumah, di dalam mobil. Kecuali mobil itu dalam keadaan mengebut, hingga Gwen kini mampu mengucapkan kata :
“Are You Deaf?” jika ia menganggap orang di sekitarnya tak melakukan apa yang dikatakannya.
Selesai membaca buku ini mata saya mengerjap takjub, sejenak menghela nafas. Hangat, serasa saya selesai menghirup teh di sore hari. Menggeliat pikiran saya seperti memungut remah-remah roti yang tercecer dipinggiran piring. Saya merasa lemah dan tak berkekuatan tapi dalam sekejap menjadi semangat yang menyala-nyala.
Yang jelas, buku ini secara detail menampilkan bahasa yang halus dan dewasa dan mampu memberikan kekuatan bagi pembacanya. Membuat pembacanya takjub dan berani mengatakan Wow! lalu mancantumkan sejuta tanda seru : Ternyata keajaiban itu selalu ada ya!!
Barangkali juga buku ini merupakan kesimpulan dari sebuah kekuatan seorang yang tak dikaruniai kelengkapan sebagai normalitas secara fisik menuju ke arah kesempurnaan secara layak, bahwa sekurang apapun kekuatan manusia jika mampu berusaha akan mampu menapaki jalan ke arah yang lebih baik.
Judul Buku : I can
Penulis : Feby Indirani & San C. Wirakusuma
Kategori : Non Fiksi / Memoar
Penerbit : GagasMedia
PS :
Buku ini adalah buku baru yang akan segera diterbitkan oleh GagasMedia dan ini adalah review saya sebagai First Reader



















