Friends,
Percaya gak, kalo cinta yang luar biasa itu membuat orang menjadi kreatif yang luar biasa juga? Imaji yang kreatif dan memilih kata yang kreatif pula..
Postingan kali ini beda dari biasanya, karena yang saya posting adalah sebuah Cerpen yang saya buat beberapa bulan yang lalu. Postingan tentang sebuah rasa cinta yang luar biasa hebatnya.
Postingan Cerpen ini juga dalam rangka ucapan selamat dan terimakasih buat Mbak Fanny atas postingan ke 500 dan awardnya.
Cerpen ini pernah di muat di salah satu media massa. Tapi tokohnya saya ganti namanya, karena cerita aslinya sebenarnya memakai nama asli si pemberi ide cerpen yang dibuat dengan penuh cinta yang luar biasa ini.
Formatnya masih sama, gayanya masih sama, gaya penulisan Itik Bali walaupun sad ending tapi tetap bersifat komedi yang membawa tawa atau minimal senyum buat pembacanya.
Oke, Check it out, selamat menikmati. Tolong saran dan kritiknya ya..
***********************
Salam Manis Buat Dim
Cerpen oleh : Ayu Laksmi
Cowo itu bernama Dim, atau lebih tepatnya gue namain Dim.
Gue namain dia Dim, karena gue selalu nglihat sticker bertuliskan Dim di bemper sebelah kiri motor trailnya. Nama sebenernya sih Rooney, tapi gue lebih suka mengkonotasikan dia sebagai Dimkholas Saputra, Dimra Bekti, Dim Radcliffe atau Dimnardo de Caprio.
Menurut gue, Dim itu sangat keren, kelihatan dewasa dan macho di usianya yang memasuki seperemat abad. Cowo yang berkantor 3 km di sekolah gue itu biasa nongkrong di warung depan sekolah tiap pagi buat ngopi. It's so cool, beda banget sama cowo-cowo di sekolah gue yang hobbynya teriak-teriak, suit-suitan nggak jelas persis kaya monyet kapiran. Walaupun wajahnya sedikit jerawatan, tapi dia kelihatan cool dengan rambut belah tengah dan tas selempangnya yang berwarna item.
Menurut gue Dim itu handsome, walaupun temen-temen gue pada bilang gue idiot, mata gue juling atau bahkan ada yang sibuk nyari-nyari nomor telpon Rumah Sakit Jiwa, gue gak peduli. Bagi gue, biarkan anjing menggonggong, Cover Girl tetap berlalu.
Gue naksir berat sama Dim. Dan sebagai orang yang naksir berat gue selalu menjadi penguntit setia. Gue tahu semua informasi tentang Dim, kebiasaannya yang dateng pagi-pagi jam 7 tepat, minum kopi setengah gelas dan menghisap rokok Qi Mild dalam-dalam, dalam waktu setengah jam kemudian dia akan berlalu, melesat dengan motor trailnya.
Gue tahu bintangnya dia apa. Gue tahu, dia gak pernah merayakan hari ulang tahunnya secara special, gue tahu hapenya merk apa dan berapa nomor hapenya. Gue tahu makanan kesukaannya nasi goreng dan telor dadar. Gue tahu, dia engga suka makan nasi yang masih panas-panas.
Darimana gue tahu semuanya? Informasi dari teman, temannya teman, temannya teman lagi .
Sebagai orang yang jatuh cinta diam-diam, gue punya segudang rencana buat menarik perhatian Dim secara baik dan benar.
Gue memakai tas sekolah selempang berwarna hitam juga, karena gue tahu dia suka warna hitam, gue pake kacamata hitam kalau berangkat sekolah karena gue pengin kelihatan lebih keren dan cool, gue setiap hari bawa coklat ke sekolah dengan harapan suatu saat gak sengaja gue bisa ngobrol dengannya gue beri coklat ini dan dia akan terkesan dengan sikap gue.
Terakhir gue tahu kalo dia suka cewe rambutnya lurus, makanya gue merebonding rambut gue yang ikal dan gak beraturan ini. Namun nasib berkata lain, pas di salon gue salah ambil nomor antrean, ketuker sama orang lain, seharusnya gue jadinya tampak manis dengan rambut rebonding kibas sana sini.
Tapi kini rambut gue malah jadi keriting reggae macam Bob Marley atau lebih tepatnya anjing pudel yang lagi kebelet.
Ternyata semua usaha gue itu belum juga membuahkan hasil, jangankan dia perhatian sama gue. Noleh ke guepun enggak. Gue selalu gak punya keberanian buat kenalan atau sekedar menyapa. Gue bagai sebongkah batu yang tetap diem di tempat sementara orang lalu lalang di sekitar gue.
Nasib.
**********************
Akhirnya, saking gak tahan gue berkeluh kesah ke sohib gue, Asti. Sewaktu menginap di rumah gue, sebelum tidur, gue bilang pada Asti, “ Gue capek As!”
“ Capek napa? Abis nimba aer?” Tanya Asti
“ Nimba aer pala lu !”
“ Gue capek kaya gini terus. “ Gue naroh tangan tangan di belakang kepala. “Gue pengin Dim tahu apa yang gue rasain.”
Tiba-tiba Asti bangun dari tidur dan bilang dengan suara lantang ke gue.
“ Lu tahu apa yang harus lu lakuin? Lu telpon Dim sekarang. Kalo lu gak ada pulsa, pake henpon gue juga boleh. Lu bilang ke dia kalo lu suka sama dia. Gimana?”
“ Emang kenapa kalo engga?”
“ Yah hidup ini pilihan, dan ini pilihannya : Lu bisa nglupain Dim kaya gitu aja. Terus Lu lulus SMA, terus Lu gak bisa nglupain dia, gak bisa punya pacar. Terus Lu nangis kejer. Terus Lu stress. Terus Lu bunuh diri loncat dari atap sekolah setengah telanjang. Lu tahu apa yang nyokap dan bokap Lu lakuin kalo dia nemuin Lu setengah telanjang dengan kepala pecah?”
“ A..aapa?” Tanya gue gagap gemeteran setengah mati karena ketakutan.
“ Nyokap Lu pasti bilang, seandainya dulu Widya dengerin kata-kata Asti.” Kata Asti ke depan muka gue.
“ Gue bakal nelpon Dim sekarang!!”
“ Sip, gih buruan!”
Gue segera menyambar hape dan mencari kontak yang biasanya hanya gue liatin tiap hari namun tak ada keberanian untuk memencet tombol call. Kontak yang gue sebut dengan “The Perfect Handsome”.
Gue nunggu beberapa saat sampe telpon diangkat, sampai akhirnya ada juga suara dari balik telepon.
“ Halo….” Kata suara berat di ujung sana
“ Halo juga…..ini Dim ya?” kata gue setengah deg-degan
“Iya bener… Ini siapa ya??”
“ Fox. Widya Fox ! “ Khayal gue memperkenalkan diri.
“ Inih..ini Widya..Widya Sari Aningrum”
“ Hmmm….sorry kalo gue lupa. Tapi yang mana ya?”
Geblek!! Inilah sejarah yang paling bego dalam hidup gue, memperkenalkan diri dengan menyebut nama lengkap tapi tak mendeskripsikan secara jelas keberadaan dan bentuk fisik gue. Please deh, ini kan bukan wawancara masuk sekolahan atau pembuatan KTP.
“ Widya yang sekolah di depan warung mang Dikun itu, yang agak tinggi,suka duduk di bangku depan di warung mang Dikun pagi-pagi. Kita sering ketemu kok kalo pagi-pagi.”
“ Ooooooooooooooo..” Kata Dim panjang.
“ Inget?!”
“ Inget..inget, Widya yang rambutnya keriting lucu itu kan?”
Gue menoleh ke Asti.
“ Dia bilang Widya yang rambutnya keriting lucu! Gue musti jawab apa dong?” Kata gue setengah berbisik.
“ Tutup..tutup teleponnya cepet!!” Asti member instruksi agar gue segera menyudahi pembicaraan ini. Gue nurut aja, walaupun gue engga tahu maksud.
“ Kenapa sih musti di tutup teleponnya? Kan gue belum selesai ngomong?”
“ Lu mau dia tahu kalo lu keriting rambut karena apa? Dan lu mau jawab : Iyah, ini keriting ngikutin gaya anjing pudel sebelah..”
Gue langsung menutup telepon seperti yang disarankan Asti, walaupun sebenernya dalam hati gue engga ridho sama sekali buat mengakhiri kesempatan pembicaraan dengan Dim yang terbilang langka.Suaranya itu lho…berasa kaya dengerin lagunya Josh Groban….You Rise Me uuuuuuuuuuuuuppppp
Gue diem aja lalu tiduran di kasur. Asti mengikuti di sebelah gue.
Sesekali gue memandang langit-langit kamar, ada suatu perasaan gamang, perasaan menyesali apa yang terjadi.
Seharusnya tadi gue ngomong lebih banyak. Seharusnya gue tanya kabarnya, seharusnya gue bilang, kalau gue suka sama dia, kalau gue sayang sama dia, kalau gue pengin jadi pacarnya. But finally, gue juga mau bilang : kalau keriting ini gak permanen.
*************************
Kata orang, bila pengin memberi perhatian kepada seseorang maka bawakan dia sesuatu yang kamu buat sendiri. Dan pagi itu, gue berencana memberi kue bola-bola coklat buatan sendiri.
Gue bertekad, kalo pagi itu harus menjadi sejarah terbesar dalam hidup gue. Menyapa, mengucapkan salam, ngajak ngobrol dan bilang ke Dim kalo gue suka banget sama dia.
Gue sudah siap dari jam 6.30 di depan warung mang Dikun. Duduk manis di bangku depan sambil menikmati lalu lalang anak-anak SMA di sekolah gue di pagi hari. Asli !!! Gue gemeteran setengah mati. Gue membayangkan reaksi apa yang bakalan terjadi nanti.
Hingga hampir jam 7, Dim tak kunjung datang. Gue mulai gelisah geser kanan-geser kiri. Gak biasanya jam segini dia belum datang, mana udah mau masuk kelas lagi. Sekali lagi, gue celingak celinguk. Dia tetep gak muncul juga. Hari itu angan gue berlalu sudah. Ah mungkin dia lagi sibuk, gue menghibur diri sendiri.
Tapi bukan gue namanya kalo putus asa. Esok gue melakukan hal yang sama, tapi lagi-lagi Dim gak muncul juga. Hingga 3 hari, gue tungguin di depan mang Dikun tiap pagi. Dia tak muncul juga, sementara kue bola-bola coklat buatan gue sudah berubah rasanya menjadi sari peresan kaos kaki yang gak bakalan enak dimakan oleh makhluk hidup apapun.
Gue penasaran dengan apa yang terjadi, lalu diam-diam gue Tanya sama mang Dikun.
“ Mang, lihat Dim gak? Kemana ya? Kok lama gak kliatan?” Berondong gue
“ Dim yang mana ya neng? “
“ Itu yang biasa pake motor trail, yang suka kesini pagi-pagi!”
“ Ooohhhh si Rooney? Ada keperluan apa Neng? Si Eneng komputernya rusak?”
“ Nggak Mang, cuman mau nanya aja.”
“ Eneng gak tahu ya? Si Rooney kan hari ini nikah!”
“…Kok..kok..kok bisa?” Gue kaget..
“ Ini undangannya, Mamang juga diundang!”
“ Kok bisa..kok..?” Gue mulai terbata-bata. Kehabisan kalimat dan kata-kata
“ Eneng gak di undang?” Mang Dikun terus bicara tanpa tahu perasaan gue saat itu sedang masgul banget. Mirip ayam yang lagi kecepit pintu.
“……….” Tiba-tiba gue tenggelam dalam khayalan acara memasak Rudy Choirudin dan Dim jadi bintang tamunya…
“ Jadi Ibu-ibu…….mari kita iris hatinya kecil-kecil “
Seminggu sejak kejadian itu berlalu, gue masih melamun yang tak pasti, memandang waktu dengan sangat cepat dan menyesali perbuatan yang seharusnya gue lakukan sejak dulu. Gue menyesal, kenapa gak dari dulu gue bilang kalo gue naksir dia, gue suka sama dia dan gue mau dia jadi pacar gue.
Pagi yang manis itu, hampir jam 7, gue denger dari kejauhan raungan motor Dim membelah pagi. Dari kejauhan gue lihat sosok Dim mulai terlihat dengan jelas.
Masih sama seperti yang dulu, dia tetep keren, rambut belah tengah, muka sedikit jerawatan dan tas slempang hitam. Hanya satu yang sedikt berubah, kini ia tak sendirian lagi, di belakangnya ada seorang cewe yang dengan mesra melingkarkan tangan pada pinggang Dim.
Khayalan gue melayang kembali pada akhir acara masak memasak Rudy Choirudin bersama Dim menghidangkan makanan diatas meja,
“ Baiklah ibu-ibu…. sekarang waktunya kita makan hati…”
Gue paham benar, bahwa kenyataan tak seperti yang kita harapkan dan terkadang tak seperti yang kita inginkan. Masa remaja gue berakhir dengan jatuh cinta sendirian.
Nasib.
*For Someone who always I miss him*
**************************************************************

Thanks buat Mbak Fanny
Terimakasih juga buat Mas Yoso Bayudono yang telah menominasikan saya di XL award Pesta Blogger 2009, walaupun belum beruntung memenangkan sebagai Kategori Blog Remaja Terbaik, tapi saya sudah senang masuk sebagai 5 nominator diantara sekian banyak blog yang bagus.










