
Doh lama banget ngga update blog ini. Sekarang update sambil bersihin sarang laba-laba deh!
Maafkan aku ya blog, dikarenakan kesibukan yang menggunung ( sibuk di Facebook sama sibuk di Multiply maksudnya he..he) aku jadi “sedikit” melupakanmu. Jangan salahkan aku, tapi salahkan mbak Anazkia yang meniupkan bisikan syaiton ke telinga awak.
Well,
“Aku ini cuma seorang yang biasa-biasa aja. Ngga pinter-pinter banget dan ngga pernah ada yang ngajarin. “
Maka asumsi jawaban yang akan muncul dari pernyataan itu bisa kaya gini:
a. Permakluman : “Ya wajarlah kalau dia masih suka salah. Dia kan manusia biasa, bukan superman atau supermi”
b. Pujian : “ wah, baru jadi manusia biasa aja udah pinternya segitu, apalagi kalo jadi manusia luar biasa?"
c. Keingin tahuan : “Aku juga manusia biasa, tapi kok biasa banget ya? Gak pinter kaya dia? Cara belajarnya gimana? Dimana cari tahu belajarnya?"
d. So what gitu lho!
Kalo jawaban anda D maka apa yang ada dipikiran anda sama dengan apa yang ada dikepala saya. Anda adalah type orang yang selalu mikir, bahwa ketika seseorang berinteraksi dengan orang lain atau setidaknya berani terjun ke sebuah forum/lomba maka ia adalah individu yang dianggap kompeten dibidang itu, sama rata sama rupa dengan yang lain. Alasan karena perbedaan umur, jenjang pendidikan, atau strata profesi bukanlah alasan lagi.
Atau setidaknya, engga suka berbasa-basi dengan aneka pujian yang serba basi.
Btw, tapi yah emang gitulah adanya. Kadang kita engga bisa subyektif menilai seseorang. Banyak orang yang menggunakan kelemahannya untuk dijadikan kekuatannya. Atau menonjolkan kelemahannya untuk menutupi kekurangannya. Contoh yang riil di Indonesia Mencari Bakat aja.
Kenapa yang masuk jadi 10 finalis pesertanya sekitar 50 % adalah justru anak-anak? Apakah mereka sebenarnya lebih berbakat, lebih bagus dan lebih kompeten dibanding peserta dewasa?
Yak mari kita lihat.
Coba bayangkan saja kalo Brandon itu bukan anak kelas 4 SD yang pinter ngeDance tapi cowo berusia 25 tahun dengan wajah biasa-biasa aja atau lebih cenderung engga ganteng meliuk-liuk dengan gerakan dance yang sama persis kek Brandon. Apa yang menjadi asumsi para juri (atau kita aja deh)
“ Lah biasa banget sih? Gua juga bisa kalo cuma jumpalitan kek gitu!”
Tapi karena Brandon masih kanak-kanak maka dimaklumi kalo gerakan dancenya masih begitu, dikagumi karena jarang anak-anak yang usia segitu udah pinter ngedance.
Padahal, kalo mau dicari, banyak lho dancer-dancer yang jauh lebih oke, lebih keren gerakannya dan lebih inovatif tapi usianya udah gede, tapi ya itulah, Brandon menggunakan kelebihannya : sebagai ANAK ANAK.
Saya salut dengan komen mbak Yusnita Febri di postingan saya Semangat Buat Eko Ramaditya Adikara yang bilang :
untuk masalah rama..
coba buang dulu sisi dilabelnya, supaya tidak mengkasihani hanya gara2 dia tunanetra..
bagaimanapun yg dilakukan Rama bukan hal spele
kebetulan teman2 blog saya juga banyak yg berkerja di industri kreatif..
yang namanya me-rename tak ubahnya plagiat.
Namun juga tak dpungkiri kemampuan rama menulis dan menggunakan komputer memang patut di apresiasi.
Kedepan semoga tak diulangi lagi perbuatannya dan Rama bisa terus berkarya dengan haasil karya yg orisinil
Iya ya, kita lebih sering subyektif menilai dia karena dia adalah tunanetra. Coba bayangkan saya kalo yang melakukan penjiplakan itu seorang Eko Ramaditya Adikara bukan sebagai blogger tunanetra tapi cowo ganteng yang normal tanpa kekurangan dengan badan segempal Ade Rai, pasti yang muncul dibenak kita,
“ Ih ganteng-ganteng kok plagiat. Gak malu apa sama badan gedenya?”
Trus dilempari tomat, trus dilempari dilaporin ke polisi, trus dan trus dengan proses panjang.
Tapi karena yang ngelakuin itu Eko Ramaditya Adikara, yang notabene punya kekurangan maka kita merasa kasihan dan justru kagum.
Ngeningwe, endak bisa dipungkiri lagi, saya juga sering kok merendahkan diri meninggikan mutu, menggunakan kekurangan buat mendapatkan pengakuan atas kelebihan saya dengan bilang :
“Ah, saya ini baru mengantongi ijazah SMP dua tahun. Belum lagi tamat SMA, jadi maklum kalo kadang suka ngaco”
Dengan asumsi saya akan mendapatkan jawaban, “ Wah hebat kamu ya Tik, meski masih bau kencur tapi kamu udah sangat cocok banget jadi calon Miss Universe!!”
Meski saya tahu, jawaban itu hanyalah sekedar basa basi yang sangat basi, tapi sudah mampu bikin hidung saya kembang kempis kesenengan.
So what gitu lho!
At now, Admin currently following SEO Contest Mobil Keluarga Ideal Terbaik Indonesia provides by Toyota SEO Award Contest 2010





15 comments:
saya jadi ingat kasus artis (tenar?) kita akhir-akhir ini, coba saja bukan artis yang ngelakuin, pasti biasa2 aja tuh...buktinya banyak kq yang begituan beredar tp di diemin.... tape deh..
ntx
Sejak Rama mengakui kesalahannya. Mbak salut lho, Tik
Andaikan semua pejabat yang korupsi mau mengakui kesalahan mereka... Ah.. impian semua buat kita semua.
Apapun, Mbak tetep salut dengan Rama
Yu, Mbak Nita ada BS juga lho :) *atau Ayu sudah tahu*
Makanya ga ada yg protes Superman bisa terbang dalam film. Coba kalau Batman bisa bergerak secepat The Flash, pastilah orang protes.
Atau di dunia nyata juga ada.
Misalnya ada band yg mau manggung trus bilang, "maaf kami baru latihan tadi pagi", ato yg gitu2.
Ya kalau mainnya bagus ya bagus, jelek ya jelek. Jangan bilang baru latihan tadi pagi supaya ada alasan.
Kalau bisa balas, ingin bilang juga "maaf, kami dari hutan belantara, tapi dipaksa naik panggung karena hewan ternak kami disandera."
bner.. kadang ada sisi lain yg menjadi nilai tambah (entah tambah jelek atau tambah baik..)^^
yupz. emang seperti itu kenyataannya. Brandon lebih mencuri perhatian karena dia yang masih ANAK-ANAK. Di indonesian got talent juga ada ko, balita 3 tahun bisa nge-drum. nice post :)
penilaian seperti itu kaya'nya udah banyak yah... dan memang hampir selalu seperti tiu >,<
tapi yang harus diperhatikan jika itu menyangkut sebuah kesalahan maka tetap harus benar2 diselesaikan, sehingga tidak selalu menggunakan kekurangan sebagai alasan >.<
yg gini ini asli Indonesia 100%...he..he...org Indonesia paling pinter merendahkan diri untuk meninggikan mutu termasuk saya...ha...ha...(sttt...tapi itu kalo dipuji-puji jadi rendah-rendahin diri..biar ngga dibilang sok tapi kalo udah direndah-rendahin balik ke asal deh, meninggikan diri....hua...ha...ha...
humm...
bener banget tuh tik..
tapi kadang jga ada yang meninggikan hati..
padahal nol di mutu...
^_^
Saya sempat diskusi hal ini dengan salah satu teman multiply dimana lebih banyak berada di bidang desain dan mengerti seluk beluk dunia kreatif dan hal-hal yang pantang oleh mereka seperti pengkaliman hasil karya.
Sering kali memang orang melihat kekurangan sebagai pemakluman.
"ah sudahlah kasihan toh dia sudah minta minta maaf"
Apakah dengan begitu selesai? Itu kalau yg merasa dirugikan tak ambil langkah selanjutnya maka selesai.
Tapi bila di bawa ke ranah hukum yaa tetap saja tak bisa mengelak dengan memakai tameng kekurangan.
Pun saya juga meyayangkan orang-orang yang mencela membawa-bawa kekurangannya.
Memang mau tak mau konsekwensi dari pengakuan itu akan berbuah celaan.
Tapi bisa gak sih klo mencela gak usah bawa2 tunanetranya.
Memangnya yang mencela itu fisiknya sempurna?
Saya sih berharap kasus ini cukup aja sampe disi dalam arti tak ada kelanjutan tuntutan dari pihak luar. Sebab bagaimanapun Dia masih muda, masih bisa menghasilkan berkarya.
:z:
se serius apapun postingan kamu, tetep bikin akyu ngakak.
Tentang Jie,
baca di sini ya neng itikkk..
http://dianari09.blogspot.com/2010/01/merindukanmu.html
jadi inget Lupus..
:v:
Sepertinya kamu emang berambisi banget jadi Miss Universe ya? :e: Hehe, aku doain moga2 terkabul ya. Ini tulus lho...
terlalu merendah menjadi hina,..
tahnks,..
salam kenal!
Poskan Komentar
Maaf ya, karena banyak spammer dan anonim gak jelas komennya makanya harus melalui approval dulu.