
Gak tega rasanya di TV saya ngelihat orang –orang berlarian kesana kemari dalam kepanikan ketika mendengar sirine meraung-raung menandakan tanda bahaya. Merapi meletus lagi, awan panas yang kecepatannya 300 km/jam siap menyapu siapa saja dan apa saja yang akan dilewatinya dan meluluh lantakkan menjadi abu.
Balita, dewasa, manula semuanya bermandikan abu dan lumpur. Tubuh mereka diselimuti warna abu-abu pekat. Tak ada satupun yang terbebas dari selimut abu vulkanik. Mereka mencari tempat yang aman untuk hidup dan kehidupan selanjutnya.
Di Mentawai, keadaan tak kalah menyedihkan. Hingga beberapa hari bantuan kepada penduduk tak juga bisa disalurkan karena kendala cuaca. Padahal mereka sudah kehilangan segalanya. Rumah, keluarga dan Mata Pencaharian.
Para relawan dengan sekuat tenaga membantu mereka. Dengan tulus ikhlas bahu membahu tanpa memikirkan keselamatan diri sendiri demi menolong sesama. Tapi kok ya ada orang yang masih tega-teganya disaat gini masih saja kehilangan empati kepada musibah orang lain
1. Pencuri Hewan Ternak Korban Merapi.
Pengungsi di lereng Merapi di wilayah Yogyakarta maupun Jawa Tengah kini resah. Soalnya, saat rumah ditinggal mengungsi, banyak ternak mereka hilang. Hal ini banyak menimpa warga yang tempat tinggalnya berjarak sekitar 10 Km dari Merapi . Penambang pasir, beberapa truk pengangkut pasir disewa untuk mengangkut sapi oleh orang tak dikenalnya.
http://www.poskota.co.id/berita-terkini/2010/11/01/sapi-pengungsi-merapi-banyak-yang-dicuri
2. Badan Kehormatan DPR “belajar etika” ke Yunani
Mungkin memang ada benarnya kalo Bapak dan Ibu wakil Rakyat kita ini belajar etika agar mereka tidak terjangkiti penyakit TUNA EMPATI stadium akut. Tapi belajar etika mbok ngga usah ke Yunani kenapa? Ketimbang duitnya dibawa ke Yunani, mending di Indonesia aja. Mungkin ada yang lebih murah dengan sekolah kepribadian Mien Uno misalnya. Kayaknya itu lebih ekonomis, praktis dan taktis. Alternatif yang bagus kan?
http://nasional.kompas.com/read/2010/10/19/11325682/DPR.ke.Yunani.Belajar.Etika
3. Lagi-lagi DPR pergi diam-diam “pelesir” ke Italia di tengah Bencana.
Ternyata hasil belajar Etika ke Yunani ngga lulus juga. Buktinya, masih saja mereka ngga ngerti etika. Di tengah-tengahnya bencana, kok malah ke Italia. Gak kepikiran apa kalo dana itu bisa dialihkan untuk membantu saudara-saudara kita. Setidaknya, di rem dulu lah keinginan Bapak dan Ibu wakil rakyat untuk menikmati indahnya Negara Valentino Rossi ini.
http://news.okezone.com/read/2010/10/27/339/387154/dirundung-bencana-anggota-dpr-plesir-ke-italia
4.Gubernur Sumatra Barat bertolak ke Jerman dengan alasan berdasarkan pada undangan Duta Besar RI di Berlin tanggal 31 Agustus 2010.
Meski telah diundang dan telah diagendakan jauh sebelum tragedi Tsunami Mentawai, apa ngga bisa dibatalkan atau di tunda dulu sih? Lihatlah presiden Barack Obama yang sampai beberapa kali membatalkan kedatangannya ke Indonesia meski sudah dijadwalkan jauh-jauh hari sebelumnya karena mengatasi crisis yang lebih urgent di tangani oleh negaranya.
Tapi namanya pejabat, masih aja bisa ngeles dengan mengatakan, “ Sebelum berangkat ke Jerman, si Bapak Guberbur sudah ada pendelegasian yang memadai. Penanganan Mentawai, tulis Gubernur, sudah diserahterimakan kepada wakil gubernur.”
Sudah cukup besarkah hati seorang pemimpin yang demikian?
http://nasional.vivanews.com/news/read/186711-seskab-sesalkan-gubernur-sumbar-ke-jerman
5. Wakil Bupati Bantul “plesir” ke Bali di tengah Bencana Merapi
Kenapa sih? Pejabat kita engga punya sense of crisis. Ngga bisa menahan hasrat untuk plesir di tengah bencana. Mbok ya kalo masih ada bencana apalagi masih dalam wolayah yang dipimpinnya bukannya malah mengalihkan tangguh jawab kepada orang lain. Tapi bisa turun tangan menggerakkan massa membantu mengatasi krisis.
(Linknya belum di dapat, tapi saya dapet info dari berita metro TV kemaren di televisi)
6. Pernyataan Ketua DPR di Media yang begitu meremehkan arti bencana dan menyakiti hati rakyat.

Adakalanya memang seorang pemimpin , seleb atau siapa saja yang ucapannya banyak di lihat dan didengar orang banyak untuk memanajemen lidah agar tak sering keseleo bicara sehingga menimbulkan persepsi yang salah. Demikian juga dengan pernyataan Marzuki Ali yang banyak menimbulkan kecaman. Ucapannya terdengar kejam dan menyalahkan. Apa si abang Juki ini ngga ngerti, bahwa ketika orang tertimpa bencana, maka tingkat sensitifitasnya bisa meningkat beberapa kali lipat. Mereka gak butuh nasehat apa lagi di salahkan, mereka butuh uluran tangan dan empati.
http://regional.kompas.com/read/2010/10/27/16512887/Marzuki.Pindah.Saja.ke.Daratan-8
Bisa-bisanya menyalahkan korban Mentawai dan menyuruh pindah ke Daratan di saat bencana telah terjadi. Serta mengatakan, yang ngurusin bencana sudah ada biarlah anggota DPR bekerja.
Emang kerjaan anggota DPR apa sih pak?






24 comments:
kerjaan depe'er...?
bikin project yang ada uangnya, soal realisasi project belakangan yang penting uang turun duluan...! :(
Nyatanya memang ada orang tidak bernurani, tapi kita tidak perlu terlalu sibuk dengan itu, yang bisa kita bantu sekarang, maka bantulah walau sedikit.
harap maklum..
Yang penting sekarang kita bantu sebisanya saudara2 kita yang sedang kesusahan ya Yu :'(
miris....... apakah harus mengalami langsung baru bisa bener2 melek >.<
Berhenti saling mengecam dan menyalahkan. Berpegangan tangan saling meringankan beban saudara kita semampu yg bisa kita lakukan..
Kalau sudah spt itu.., rakyatlah yang bisa menilai.
Yang penting kita (sebagai rakyat biasa) justru bersyukur, karena masih punya kepekaan dan kepedulian kepada sesama.
Biarlah mereka spt itu, yg penting kita tak kehilangan nurani. Yuk kita bantu saudara2 kita yg sedang tertimpa bencana...
Ya memang banyak yang berbuat nista di tengah kekalutan tik. Yang disebut terakhir, saya tidak sepenuhnya setuju. Tidak nista, hanya Si Juki memang kurang cerdas melihat situasi, walaupun yang dia katakan intinya adalah "Kita harus waspada". Salam.
Ya memang banyak yang berbuat nista di tengah kekalutan tik. Yang disebut terakhir, saya tidak sepenuhnya setuju. Tidak nista, hanya Si Juki memang kurang cerdas melihat situasi, walaupun yang dia katakan intinya adalah "Kita harus waspada". Salam.
bangsa ini masih harus banyak belajar tentang 'kepekaan', Tik ...
pejabat kita emang ga punya nurani, pengen rasanya nyiram mereka ke dalam kloset. :x:
semoga indonesia kedepannya lebih baik lagi, klo ngeliat keadaan bangsa indonesia sekarang ini, fyuhh....sangat jauh dari harapan :f: , tetap semangat!!! :u:
marjuki allay..!
datang kesini, saya dorrr! langsung...
kenapa ngga milih Mbah Maridjan aja ya...dulu...(nyesel.com)
Lebih kecewa dengan para penyelenggara negeri ini yang seakan nggak perduli dengan keadaan, dengan dalih, "Ini sudah terjadual jauh2 hari sebelumnya" Huff..kok bisa ya..
itulah manusia yu
beda kepala beda fikiran
kita mikirnya apa yang mereka perbuat tuh ga pantes
tapi mereka mikirnya yaahhh kapan lagi dunk bisa mejeng gratis pake duit rakyat. fyuhh..
Tidak bermaksud membela, saya pikir perihal gubernur Sumbar itu wajar aja, karena mungkin Pak Gub pikir ini kesempatan yang bagus untuk investasi bisnis di Sumbar ke depannya. Mngkin ini kesempatan yang jarang ada dan mungkin juga udah direncanakan dan dijadwalkan sejak lama. :t:
maksih bget ne buat postingan nya
Kerennn gan
Glad too meet u……
Thanks untuk blog nya
good u blog
Good u idea
ne dia yang di cari2…..
I like it,,,
mantep u punya berita
Interest…………
cap cay ne loe punya….
Hebat guys………………
Poskan Komentar
Maaf ya, karena banyak spammer dan anonim gak jelas komennya makanya harus melalui approval dulu.