Beberapa waktu yang lalu saya pernah baca postingan mbak Kuya tentang drama Korea Brilliant Legacy. Saya sangat suka Drama Korea yang dibintangi oleh : Lee Seung Ki dan Han Hyo Joo.
Hampir tiap sore saya tak pernah melewatkan tayangannya di Indosiar.
Jalan ceritanya sih sebenernya gak jauh beda sama sinetron-sinetron Indonesia. Penuh intrik, konflik, ada tokoh jahat dan tokoh baik dan sedikit bermimpi-mimpi juga. Tapi karena penggarapannya yang (menurut saya) begitu bagus, sehingga menjadi tak mirip sama sekali dengan sinetron Indonesia.
Sinetron Indonesia mungkin banyak penggemarnya, namun sayangnya, belum membuat saya teradiksi dengan jalan ceritanya yang suka dilebih-lebihkan itu. Belum membuat saya punya rasa :kalo gak nonton satu episode saja, rasanya sungguh sayang.
Maafkan diriku para sineas Indonesia, bukannya aku tak mencintai hasil karyamu, tapi kadang bosen banget dengan cerita yang dipanjang-panjangin. Sedikit catatan dari saya yang dudul ini tentang sinetron Indonesia ..
1. Suka mengupgrade umur
Mending computer yang di upgrade specnya, ini anak SMA dipoles jadi orang udah bekerja atau ibu rumah tangga dengan 2 anak atau anak SD jadi anak SMA. Kenapa sih? Apa gak ada pemain yang pas mewakili usianya?
2. Dandanan suka ngga mecing
Perannya jadi orang desa, orang miskin atau pengemis tapi rambutnya dicat, kulitnya putih bersih halus mulus laler meclok kepleset. Bajunya suka dibuat ga mecing, tapi tetep aja pake baju bagus dan bersih.
3. Suka gak masuk akal
Di setiap sinetron atau film Indonesia sekalipun, lagi marah-marah, ngusir orang, kok ndilalah selalu pas hujan deres banget. Petir menyambar-nyambar dan herannya yang diusir itu tetep aja berjalan gak nyari tempat berteduh, padahal dipinggir jalan banyak tempat berteduh.
4. Kejahatan Abadi
Yang jahat itu jahat terus, bibirnya sampe menyor dibelakang yang dijahati. Yang baik jadi baik terus. Kata-kata dalam hati selalu divisualisasikan dengan kata-kata bukan dengan sekedar ekspresi dan music latar
5. Panjang Episode menurut Rating
Kalo Ratingnya bagus, dibuat sampe seratus session dengan beratus episode hingga akhirnya penonton bosen dan akhirnya rating turun, diselesaikan dengan kematian tokoh jahat. Kenapa ya? Engga dibuat kaya Drama Asia, ada usainya jalan cerita beberapa episode dan akhirnya kita kangen lagi nonton sampe berulang-ulang
6……………………………..*tolong tambahin donk*
halah ini postingan opo to Tik? Dasar emang dirimu dong dong..
Saya lagi butek ide, ampe postingan yang ga penting begini dibahas…




Lanjut Baca - Hitam Putih Sinetron Indonesia
Hampir tiap sore saya tak pernah melewatkan tayangannya di Indosiar.
Jalan ceritanya sih sebenernya gak jauh beda sama sinetron-sinetron Indonesia. Penuh intrik, konflik, ada tokoh jahat dan tokoh baik dan sedikit bermimpi-mimpi juga. Tapi karena penggarapannya yang (menurut saya) begitu bagus, sehingga menjadi tak mirip sama sekali dengan sinetron Indonesia.
Sinetron Indonesia mungkin banyak penggemarnya, namun sayangnya, belum membuat saya teradiksi dengan jalan ceritanya yang suka dilebih-lebihkan itu. Belum membuat saya punya rasa :kalo gak nonton satu episode saja, rasanya sungguh sayang.
Maafkan diriku para sineas Indonesia, bukannya aku tak mencintai hasil karyamu, tapi kadang bosen banget dengan cerita yang dipanjang-panjangin. Sedikit catatan dari saya yang dudul ini tentang sinetron Indonesia ..
1. Suka mengupgrade umur
Mending computer yang di upgrade specnya, ini anak SMA dipoles jadi orang udah bekerja atau ibu rumah tangga dengan 2 anak atau anak SD jadi anak SMA. Kenapa sih? Apa gak ada pemain yang pas mewakili usianya?
2. Dandanan suka ngga mecing
Perannya jadi orang desa, orang miskin atau pengemis tapi rambutnya dicat, kulitnya putih bersih halus mulus laler meclok kepleset. Bajunya suka dibuat ga mecing, tapi tetep aja pake baju bagus dan bersih.
3. Suka gak masuk akal
Di setiap sinetron atau film Indonesia sekalipun, lagi marah-marah, ngusir orang, kok ndilalah selalu pas hujan deres banget. Petir menyambar-nyambar dan herannya yang diusir itu tetep aja berjalan gak nyari tempat berteduh, padahal dipinggir jalan banyak tempat berteduh.
4. Kejahatan Abadi
Yang jahat itu jahat terus, bibirnya sampe menyor dibelakang yang dijahati. Yang baik jadi baik terus. Kata-kata dalam hati selalu divisualisasikan dengan kata-kata bukan dengan sekedar ekspresi dan music latar
5. Panjang Episode menurut Rating
Kalo Ratingnya bagus, dibuat sampe seratus session dengan beratus episode hingga akhirnya penonton bosen dan akhirnya rating turun, diselesaikan dengan kematian tokoh jahat. Kenapa ya? Engga dibuat kaya Drama Asia, ada usainya jalan cerita beberapa episode dan akhirnya kita kangen lagi nonton sampe berulang-ulang
6……………………………..*tolong tambahin donk*
halah ini postingan opo to Tik? Dasar emang dirimu dong dong..
Saya lagi butek ide, ampe postingan yang ga penting begini dibahas…


















