
Ketika saya membaca buku Raditya Dika yang menceritakan pengalamannya menjadi jurnalis di Metro TV dan Bukune, saya sungguh terkagum kagum. Wow...betapa kerennya. Meski sebenernya yang ia ceritakan justru tentang kedodolannya selama menjadi jurnalis, tapi buat saya tetaplah keren.
Menurut saya, menjadi jurnalis itu sama asyiknya kaya jadi selebritis. Bisa ketemu orang penting, bisa tahu tentang banyak hal dan bisa juga ngetop. Terbayang jika saya nenteng-nenteng kamera sambil bawa perekam lari-lari berkejaran dan berdesak-desakan dengan wartawan lain saat akan mewawancarai artis top.
" Mas, gimana perasaannya setelah jadi artis yang lagi naik daun?"
" Mas..mas...lu kire gua tukang siomay apa?"
" Ya udah, panggilnya Abang aja ya?"
" Bang...bang...lu kire gue tukang becak apa?"
" Kalo gitu Uda aja deh!"
" Lho kan belum wawancara? Kok Udah sih?"
" Uda..uda...itu artinya kakak!! "
" Haaahhh kakak??? Oh Tidaakk!! Lu kire gue mau jadiin lo adek? Ihh amit-amit deh!!"
Btw, jadi critanya saya sejak 2 bulan lalu lagi belajar jadi jurnalis sebagai kontributor Majalah Aplaus The Lifestyle dan terakhir di Tabloid Bali Bicara.
Dalam pikiran saya, semua orang itu mirip kaya saya yang punya jiwa narsistic dan antic ini bahwa mereka akan sangat senang jika ditampilkan di sebuah media. Tapi ternyata anggapan saya salah sama sekali.
Suatu hari saya pengin menjadikan teman saya tampil menjadi profile di Tabloid. Sebab, menurut saya ia memenuhi kriteria untuk ditampilin dalam terbitan kali ini. Selain saya lumayan kenal akrab, dia juga cakep dan juga cukup narsis ketika tampil di FB. Apalagi, dia pernah aktif dan berprestasi di dunia modelling. Tapi pas saya bilang mau wawancara, dengan jaimnya dia bilang :
" Aku ngga bisa, aku merasa ngga pantes aja tampil di majalah"
Lalu dengan sedikit membujuk saya bilang padanya :
" Ngga apa-apa mbak, Mbak *** okey banget kok. Yah, itung-itung bantu saya belajar jadi jurnalis."
"Maaf ya, tapi sekarang aku ngga bisa bantu. "
Busyeeetttttt..... begini rasanya ditolak orang ya? Gak nyangka banget saya dengan jawaban temen saya itu. Meski sedikit kesel, tapi saya mencoba mikir positif aja. Mungkin emang dia pemalu (hihihi...apa malu-maluin ya??:D)
Pernah suatu kali saya ingin membuat artikel tentang sebuah komunitas. Alamatnya sudah saya dapetin lewat temen. Sebelum ketemu sama orang-orangnya, maka saya lebih baik menghubungi lewat telp untuk membuat appointment kapan bisa ketemu.
Berhubung saya gak tahu no telp.nya maka saya nanya berdasarkan alamat tersebut di bagian informasi telkom, 108. Dari informasi no telp yang saya dapetin saya langsung telp ke no tersebut.
" Halo selamat pagi. Apa benar ini Jalan XXX, Sanur Denpasar?"
" Ya benar, ini dengan siapa ya?" Kata suara lelaki dengan suara bariton di seberang sana.
" Ini dengan Dyah Ayu. Bisa bicara dengan bapak **** (nama si Contact Person)?"
" Oh ya saya sendiri. Ada apa ya mbak. Ada apa?"
" Saya ingin tahu kegiatan komunitas yang bapak pimpin saat ini"
" Komunitas? Komunitas apa ya?"
" Lho, bukannya ini Markasnya Denpasar ***** Clubs ya?"
" Bukan mbak, ini Home Stay"
" Maaf pak salah sambung..."
" Ngga apa-apa mbak, ngomong-ngomong rumahnya dimana? Minta no hapenya dong! Boleh main ke rumah gak?"
" Engggggaaaaaaaaaakkkkkkkkkkk!!!" Teriak saya buru-buru menutup telpon.
Padahal baru segitu. Gak ngebayangin gimana para jurnalis senior yang malang melintang di dunia persilatan. Buat ngedapetin artikel dan nara sumber yang akurat pasti gak sedikit halangan merintang. Sebab, kalo keselo tangan salah nulis dikitttt aja bisa jadi perkara besar yang bisa menjadi nyawa taruhannya. Hiiii...
Hal ini berbeda banget ketika kita menulis Fiksi. Entah itu, cerpen, novel, puisi, prosa atau cerita bersambung. Seolah-olah kita ini bisa menjadi sutradara dan Raja. Alur cerita, karakter tokoh dan akhir kisah bisa kita buat sendiri.
Mau sad ending atau mau happy ending kita bisa atur. Kalo suka dengan tokoh imajinasinya (misalkan diri sendiri) ya akhir kisah yang baik-baik aja. Tapi kalo lagi dendam dengan tokoh imajinasinya bisa aja dibuat sesengsara mungkin. Biar kapok!!!
Pokoknya dalam fiksi, semuanya cincay lah...bisa diatur.
Tapi kalo saya di tanya saya lebih suka mana menulis artikel sebagai jurnalis atau menjadi penulis fiksi? Maka saya akan menjawab bak selebritis yang lagi di wawancara di infotainment ketika disuruh milih antara nyanyi atau sinetron?
"Dua-duanya enak sih! Susah ditinggalin"
Hayaahhhh sok artis banget deh lu!!
At now, Admin currently following SEO Contest Mobil Keluarga Ideal Terbaik Indonesia provides by Toyota SEO Award Contest 2010











