Ingat, Tak Ada Batas Waktu untuk Bermain dengan AnakJika sobat Itikbali.com yang sudah menjadi orangtua ikut dalam permainan anak bisa mempercepat stimulasi bagi tumbuh dan kembang anak anda.

Terkait dengan sisi pertumbuhan dan perkembangan anak, orangtua harus bermain setiap saat dengan anak. Sebab, proses tumbuh kembang selalu berjalan tanpa ada batas waktu.

Hal itu dikatakan Dr Markus M Danusantoso, Early Learning Centre (ELC) Child Development Specialist.

“Pagi, siang, malam, proses tumbuh kembang tetap berjalan. Kenapa? Karena proses tumbuh kembangan adalah proses interaksi antara anak dan lingkungan, anak dengan orang-orang sekitar.”

“Jadi enggak ada waktunya harus berapa kali sehari, itu enggak ada,” kata Markus.

Markus mengungkapkan hal ini saat peluncuran 50 permainan edukatif untuk tumbuh kembang anak dari ELC, di ELC Grand Indonesia, Jakarta, Rabu (22/11/2017).

Lantas, bagaimana menyisipkan permainan sebagai stimulasi tumbuh dan kembang anak?

Markus mengatakan, permainan sebagai sesuatu yang menyenangkan, bisa disisipkan di dalam aktivitas harian.

Mulai dari mandi, tidur, minum susu, hingga makan.

“Misalnya mau tidur, ada mainan lampu berpendar, di situ ada hewan-hewan, ada bintang, dan bulan.”

“Jadi suasana tidur juga ajak anak bicara. Selain itu juga ada lagu-lagu sebelum tidur. Itu juga bisa bagian dari stimulasi,” kata dia.

Saat makan, maka orantua bisa menggunakan alat-alat makan yang berwarna-warni dan memiliki bentuk yang bagus.

Pemilihan tersebut untuk mendorong anak  belajar memegang alat makan sendiri.

Termasuk saat mengganti popok, juga merupakan bagian stimulasi.

Saat menggantikan popok, ajak anak berinteraksi. “Saat gantikan popok bisa bilang, popok kamu basah, mami mau ganti. Ini lepas dulu, mami mau pasangkan (popok) kamu, masukin kaki kanan dulu,” katanya.

Interaksi itu berguna untuk pengetahuan anak. Salah satunya untuk melatih mereka untuk mengenakan pakaian sendiri.

“Bila dilakukan terus-menerus, maka anak akan cepat menangkap,” ungkap Markus.

“Karena sekarang kan banyak anak mau pakai celana loncat-loncat, dua-dua kakinya mau dimasukin. (Itu) karena pada waktu kecil orangtua-nya enggak ngomongin urutannya,” ujar Markus.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *